Selasa, 19 November 2013

Resensi Buku


  

Menjadi Guru Inspiratif, Menyemai Bibit Bangsa

Oleh: Lenny Oktaviana Dewi, S.Pd
  (Guru SDIT Insan Permata Malang)

Judul Buku      : Menjadi Guru Inspiratif, Menyemai Bibit Bangsa
No. ISBN         : 978-602-8811-80-4
Penulis             : A. Fuadi, dkk
Penerbit           : Penerbit Bentang (PT Bentang Pustaka)
Tebal Buku      : + 186 halaman
Tahun Terbit    : Desember 2012
Kategori          : Fiksi


Tentang para Penulis :
Rahman Adi Pradana, biasa dipanggil Adi, adalah alumni Pengajar Muda dari Yayasan Gerakan Indonesia Mengajar. Adi ditempatkan selama satu tahun untuk mengajar di SDN Indong, Desa Indong, Pulau Mandioli, Kabupaten Halmahera Selatan, Provinsi Maluku Utara pada 2010-2011 lalu. Adi sempat bekerja di dua perusahaan multinasional setelah lulus. Saat ini Adi bekerja sebagai staf di salah satu Unit Kerja Presiden.

Rakhmawati Agustina, lahir di Semarang pada 8 Agustus 1989. Anak kedua dari tiga bersaudara ini memiliki hobi membaca dan menulis. Saat ini Rakhma tinggal di Jln. Parang Baris 8 No.10 Perumnas Tlogosari-Semarang, Jawa Tengah. Penulis sangat terinspirasi oleh Penulis buku dan penyanyi Dewi “Dee” Lestari.

Faradhilla Ayu Rahma Dhevi, dengan nama pena Faradhilla Dhevi, lahir di Tulungagung, 11 Februari 1992. Putri pertama dari pasangan Bapak Suhardi dan Ibu Wassilatu Rohima. Meski berstatus sebagai mahasiswi Farmasi, kecintaan terhadap satra membuat Fara tak berhenti bermimpi untuk menjadi penulis.

Muhammad Al Aliy Bachrun masih tercatat sebagai mahasiswa aktif di Institut Studi Islam Darussalam Gontor (ISID) pada Fakultas Syari’ah Program Studi Perbandingan Madzhab dan Hukum (PMH). Pria kelahiran 10 Juni 1991 ini pecinta traveling dan nonton film. Saat ini tinggal di Kompleks Pondok Modern Darussalam Gontor 1 Ponorogo, Jawa Timur

Sofa Nurdiyanti adalah Sarjana Psikologi, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Nur pernah aktif dalam LPM “Eksis” dan anggota jurnalistik di FKM BUDI UTAMA. Setelah lulus dari Universitas Sanata Dharma pada 2010, Nur mendapat beastudi Sekolah guru Indonesia (SGI) dari Dhompet Dhuafa dan ditempatkan sebagai guru di Surabaya salama satu tahun. Ia kini kembali menjalani profesi sebagai guru di Smart School Al Haamidiyah, Jakarta Selatan.

Alita Soeyadi adalah nama pena dari Alita Endah Susanti. Kelahiran Surabaya, 5 Oktober 1980. Sedang menempuh S-2 pada Jurusan Pendidikan Anak Usia Dini. Disela-sela kuliah, ia masih aktif menulis untuk berbagai media.

Rosmery Ashalba adalah nama pena dari Rosi Meiliani, bermukim di Worcester Inggris. Penulis telah menghasilkan belasan buku antologi dan puluhan tulisan yang dimuat di media cetak, berupa tulisan perjalanan, opini, artikel, dan parenting.

Nabila Anwar, lahir dan tumbuh di Kediri. Menikmati pendidikan akhir di P3HM Lirboyo Kota Kediri. Saat ini menyibukkan diri dengan kegiatan literer dan mengabdi di Yayasan Al-Amin Kediri. Runway Days, novel pertamanya, diterbitkan oleh Bentang Belia.

Siswiyantisugi hingga saat ini masih setia mengajar bahasa Indonesia di sebuah bimbingan belajar yang berkantor pusat di Kota Bandung. Mengajar, menulis dan traveling membuat hidupnya terasa lebih hidup. Beberapa buku antologinya yang sudah terbit; A Cup of Tea Single Mom (Stiletto Book,2011), Storycake for Ramadhan (GPU, 2011), Baby Traveller (Delasarfa Books, 2011), Happy Mom (Elex Media, 2012)

Dewi Yuliasari (Dee ‘d Barry) adalah seorang ibu dari Al-Farrel, Al-Fahsya, Aleesha, dan Almeera, sekaligus “a born teacher” yang mendedikasikan hidupnya untuk melihat senyum keberhasilan para anak didiknya.

Dwi Yulianti, penulis kelahiran Banjarnegara, 20 Juli 1978. Dulu pernah kuliah di Universitas Negeri Yogyakarta Jurusan Pendidikan Fisika. Beberapa cerpennya pernah dimuat di majalah sejak 1990-an. Saat ini penulis tinggal di Perumahan Pesona Merapi Asri No A1, Tegalyoso, Klaten Selatan, Klaten.

Febi Mutia, lahir di Banda Aceh, 4 Februari 1987. Penulis menghabiskan masa sekolah di Banda Aceh dan mulai gemar membaca dan menulis sejak usia Sekolah Dasar. Lalu merantau ke Bandung pada 2004 demi menempuh studi di Teknik Pertambangan ITB. Kini sedang melanjutkan studi master di Universitat Gottingen, Jerman.

Taufiqa Hidayati (Fiqa), lahir di Jakarta, 32 Oktober 1992. Perempuan yang pernah menjadi juara favorit penulisan artikel internet cerdas ingkat nasional oleh Komunitas ICI ini, kini melanjutkan pendidikan di Poltekkes Kemenkes Jakarta III Program Studi Kebidanan Cipto Mangunkusumo. Fiqa juga aktif dalam kepengurusan Rohis BEM Jurusan Kebidanan, Poltekkes Kemenkes Jakarta III.


Saatnya Menanam
Buku ini adalah kumpulan kisah nyata para penulisnya. Saat sepenggal kisah hidupnya terjalankan di ruang-ruang kelas dengan aneka kisah dan kasih.  Di punggawai oleh Ahmad Fuadi, penulis yang sangat fenomenal dengan buah penanya dalam Novel Best Seller “5 Menara” beliau menggandeng 13 penulis yang semuanya adalah Guru Peradaban.
Entah mengapa, begitu membuka lembar pertama pembaca akan terbawa suasana haru biru dalam suka duka seorang guru. Maka, menjadi guru ibarat seorang petani, petani peradaban. Mereka menyiapkan bahan dan lahan belajar di kelas, memelihara baik-baik bibit penerus bangsa, menyirami mereka dengan ilmu dan memupuk jiwa mereka dengan karakter luhur. Bila tiba masa kelulusan, guru akan tersenyum bahagia ketika anak didiknya meninggalkan sekolah, tumbuh besar, dan memberi manfaat buat orang lain. Guru yang ikhlas adalah petani yang mencetak peradaban.
            Ada banyak pelajaran alam dari testimoni ke tiga belas guru dalam buku ini. Penggambaran kebersahajaan, kepolosan, keluguan, ketidak beradaan sarana dan prasarana belajar atau perjalanan menempuh medan yang penuh kesulitan, semua adalah nafas semangat yang tak pernah padam walau tugas-tugas tertuntas sudah. Membacanya adalah membayangkan “Pahlawan tanpa Tanda Jasa” yang sering dinyanyikan murid-murid saat wisuda sekolah di kota-kota besar. Gambaran itu bisa kita dapatkan pada “Merah Putih di Kaki Langit Indong” tulisan Rahman Adi Pradana
            Kegigihan seorang Guru memotivasi murid-muridnya untuk tetap semangat belajar, kreativitas membangun suasana belajar, mentauladankan cinta dan perhatian bisa kita dapatkan pada tulisan Rahmawati Agustina pada “Pejuang Pasar” atau Muhammad Al Aliy Bachrun dalam “Ping Sewu”
            Ataupun semangat itu sendiri yang mutlak harus dimiliki seorang guru di tengah segala keterbasan seperti cerita Alita Suyadi pada “Kelas Matahari” dan Siswiyantisugi dalam “Menjadi Guru Tak Biasa”
Dan pelajaran hati itu, menjadikan kita para pembaca menunduk malu dan terpekur sedu, saat mendapati diri di tengah segala kemudahan dan fasilitas dunia belajar, biasa-biasa saja menoreh prestasi. Mungkin kita perlu berada di posisi mereka para Petani Peradaban ini, kalau ternyata kita merasa salah menentukan pilihan hidup untuk menjadi seorang GURU.
            Kisah-kisah dalam buku ini bukti nyata, bahwa pendidikan tidak terbatas pada a,b,c,d….yang diteriakkan di dalam kelas. Tetapi bakti dan janji yang diberikan seorang guru yang berjuang membawa perubahan.
Buku ini sangat layak dibaca oleh guru-guru yang kehilangan semangat berjuang karena gaji kecil dan sertifikasi yang tak kunjung cair….maupun para tuan guru yang telah lelah berpayah dalam ikhlas dan rendah hati. Agar semangat tak terhenti. Untuk terus berbakti mengukir prestasi, terutama di hadapan Ilahi atas janji membawa sejumput amal budi, sebagai pemberat timbangan bakti.









Rabu, 02 Oktober 2013

Antalogi Hati (Eps. Syukur)


 


Antalogi hati
By: Ummu Alim

EPISODE SYUKUR
Banyak bersyukur, itulah pelajaran terakhir hari ini. DiijinkanNya aku menjalani setengah dari dienku di usia yang cukup matang.  Artinya bilangan 26 itu tidak terlalu muda dan tidak disebut perawan tua untuk ukuran jaman sekarang. Aku merasa Allah teramat sayang kepadaku. Begitu cepat doa-doaku terjawab, tanpa aku minta kapan waktu itu akan tiba. Dan cerita tentang sabar dan pasrah telah menghiasi setiap taujih pekananku sedang dorongan untuk hanya mendapatkan apa yang Allah mau dariku berdetak setiap detik hari-hariku.
Ketika seuntai mihnah yang harus aku rasakan kumaknai sebagai obat kala aku resah, maka rasa itu tiba-tiba hilang berganti nikmatnya obat bius penghilang laraku. “Ukhti, insyaalah Allah akan berikan yang terbaik untuk anti, kalau tidak di dunia, nanti Allah akan berikan di akhirat.” Ya, sedangkan bayangan membentuk keluarga sakinah itu bermain-main di pelupuk mataku….., “lihatlah aku mencium tangan suamiku ketika beliau berangkat fii sabiilillah, kuiringi kepergiannya dengan untaian do’a. Kusambut kedatangannya dengan penuh rindu, sedang anak-anak berceloteh dengan keriangannya bermain bersama bunda hari ini, sambil bergelayutan di lengan ayahnya. Lalu dengan lahap, di comotnya bakwan jagung kegemarannya, dan anak-anak berlarian sampai tak sengaja menyenggol bakwan jagung itu hingga menggelinding ke bawah dan akhirnya tergencet kaki-kaki mungilnya, sedang ayahnya tertawa terbahak-bahak melihat  bunda tersenyum kecut atas hasil jerih payahnya berkutat dengan si bakwan seharian di dapur. Lalu menjelang maghrib kita semua bersiap sholat jamaah. Ayah memberi aba-aba agar anak-anak bersiap ke masjid. Dan malamnya sang ayah membangunkan bunda untuk tahajud bersama…, “sampai di situ aku terbangun.
Sore itu ketika taujih pekanan tengah kuikuti, dalam lingkaran ketulusan, sang guru mengingatkan akan visi dan misi hidup berumah tangga. Pekan berikutnya aku menghadapnya, dan pertanyaan itu dilontarkan kepadaku, apakah aku siap mengikuti sunnah Rasulullah membangun mahligai rumah tangga. Dan hari berikutnya kusampaikan aku tak punya alasan untuk tidak menerimanya. Dalam untaian doaku berikutnya aku lebih berharap lagi Allah membimbingku hingga aku cumlaude menghadapi mihnah dariNya.
Sampai hari ini mendampinginya adalah rangkaian cerita yang di sutradaraiNya. Peran dan alur cerita mengalir begitu saja sesuai kehendakNya. Aku harus berperan sebagai permaisuri, sahabat, pelayan setia, yang naskah ceritanya harus kuimprovisasi agar aku cepat dewasa menjalani peran itu. Bersyukur Sang Sutradara mendidikku dengan banyak peluang-peluang kebaikan yang menjadikanku kuat menapak sampai hari ini. Meskipun aku yakin, aku masih harus terus belajar.
Pertunjukan belumlah usai. Kalau dulu aku hanya bermimpi, kini mimpi itu telah terwujud bersama dengan sedikit perubahan disana-sini, tanpa aku pernah menduganya. Bakwan yang tergencet itu adalah kesukaan anak-anak. Aku berusaha menghidangkan tempe goreng kesukaannya setiap kurasakan kehadirannya dirumah. Dan celoteh anak-anak itu nyata kurasakan sekarang, berebut abi di antara punggung dan lengannya adalah nyata di hadapanku. Aku terlalu meledak-ledak ketika kini empat jagoanku nyata Allah berikan padaku. Setiap kehamilan adalah sebentuk kepasrahan, terserah Allah berikan apa untukku dan suamiku. Aku cukup bahagia ketika suamiku serius mendengarkan dokter berkata,”Laki-laki lagi, Bu.”meski tak kulihat ia melonjak kegirangan. Karena aku semakin tahu hatinya, dia lelaki yang tiada keluh.

 





Sebentuk cinta hadir, yang tiba-tiba kurasakan seiring hadirnya rindu kala jauh darinya. Mungkin doa saudara, kerabat dan teman-teman ketika kami mohon restu saat pernikahan dulu untuk sakinah, mawadah dan rahmah mahligai kami dikabulkan Allah sang Pemilik Cinta itu. Apalagi keluarga ini semakin besar dengan hadirnya anak-anak. Cita-cita dan mimpi itu mulai terwujud, bergulir menciptakan mimpi-mimpi baru.
Berganti cerita tentang mihnah, adalah saat aku mulai mengurai satu persatu skenario Allah yang terus berlanjut sampai hari ini. Kadang harus kejar tayang, karena saat itu pula aku harus mengambil keputusan. Dan itulah pelajaran yang telah kuperoleh saat aku tengah mulai bermimpi dahulu. Allah Maha Tahu apa yang aku rasakan. Pencarian jati diri, saling memahami, berpikir, bersikap dan bertindak yang harus terus kuasah agar aku berjalan seperti apa MauNya. Bermain di luar kehendakku, atau kemelut dan konflik batin yang semakin mendewasakanku benar-benar aku rasakan sekarang.
Kalau aku sedang belajar, hari ini aku masih mencoba meluaskan materi syukurku. Bagaimana aku takut untuk kufur  kepadaNya. Banyak kulihat orang-orang yang bersedih karena keluarganya.
Episode pertama tentang pangeranku, ayah anak-anakku:
“Mas, hari ini ummi ada acara sampai maghrib, anak-anak sama mas ya.” pintaku.
“ Ya, dirumah saja sama Abi”.
“Anak-anak ikut Abi saja, kasihan Ummi nanti payah”.
“Ayo….., di mandikan Abi, Ummi repot masak.”
“Sudah ganteng semua, ayo disuapin Abi…siapa yang nambah?”
“Siapa yang kelon Abi?”
Bagaimana aku tidak bersyukur, disampingku ada yang mengeluh betapa sulitnya menghadiri acara dengan menggandeng dan menggendong sedang si adik di perut semakin tumbuh besar.
Episode anak-anak, penyejuk mataku:
“Ummi, aku boleh puasa sebulan penuh ?” ujar si sulung
“Ummi, aku nanti dibangunin tahajud ya,” pintanya
“Ummi, aku sudah bisa naik sepeda roda dua,” teriak yang nomor dua
“Ummi, nasi goreng ummi paling enak sedunia,” timpalnya
“Ummi, ini bunga untuk ummi, ummi paling cantik sedunia,” cetus jagoanku yang ketiga
“Ummi, Tsabit sayang ummi,” celoteh si bungsu

Dan ijinkan saya umminya menangis bahagia, atas semua yang mereka rengekkan pada hari-hariku meniti cinta. Seorang bunda yang terus meminta dengan segala kelemahannya, menjadi ummi yang terbaik untuk mereka, anak-anak masa depanku.



bersambung.....

Minggu, 10 Maret 2013

Mari Kita Bercumbu


Mari Kita Bercumbu

(Lenny Oktaviana Dewi, S.Pd)

 

Malam mulai bergeser perlahan. Nafas tenang penghuninya terhembus menuju fajar. Terkadang ada jeda sejenak mengintip malu-malu akan rindu yang mulai tak tertahan. Sepertiga malam, saat yang ditunggu. Jiwa-jiwa perindu itupun bergegas mengejar waktu. Tak ingin terpenggal hanya karena bisikan palsu, “Ah, malam masih terlalu panjang, lelaplah lagi….toh esok masih ada hari.” Dilepaslah buhul pertama dengan segera membelalakkan mata. Mengusir nista pengotor jiwa.

Terayunlah langkah menuju kulah. Memercikkan wudhu pengusir gundah. Lihatlah betapa tenang dia mengadu. Pada Rabb sepenuh syahdu. Bantu hamba ya Allah tegakkan ragaku, menghadapmu malam ini. Dirikan lail tanpa jahil. Betapa aku rindu mengadu. Atas lemah dan hinanya jiwaku. Segarlah wajah para perindu. Percikan wudhu bangunkan hasrat bercumbu. Terbiritlah iblis sepenuh malu. Telah terlepas buhul kedua, marah sang penista. Atas semangat jiwa bertakwa.

Terhampar menghadap kiblat. Terayun takbir bergema dalam lirih sepanjat doa. Allah Maha Besar, Kuasa Mu bangunkan jiwaku. Inilah hambaMu tengah mengadu. Dengarlah keluh dan kesahku, betapa beban di pundakku terasa berat tanpa Mu. Ringankanlah ya Allah, agar kumampu menyelesaikan amanah - amanah ini setuntas dan sempurna dengan sentuhMu. Janganlah Engkau hukum hamba bila lupa dan tersalah. Aku sangatlah lemah, kuatkanlah dengan keMaha AgungMu. Lega, buhul ketiga telah udar berserak. Merah padamlah sang durjana. Satu lagi godanya tumpul berujung kabur. Meninggalkan pendiri malam yang tengah khusyuk membangun takwa.

Siapakah dia? Yang tengah asyik bercumbu dengan Rabbnya. Mengalahkan setan sang durjana. Sesore tadi, sejenak ia melingkar dalam iman. Bersama kawan yang memimpin di depan. Lebih dahulu dalam ketakwaan. Belajarlah ia akan arti sebuah perjuangan. Mengalahkan nafsu, terlena dalam malam. Inilah keutamaan yang ingin ia dapatkan;

1. Allah akan mengangkat derajatnya baik di dunia maupun di akhirat karena taqarubnya kepada Allah swt. “Dan pada sebagian malam, lakukanlah sholat tahajud (sebagai suatu ibadah) tambahan bagimu. Mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji. “( QS. Al Isra’ : 79 )

KaruniaNya yang menggiurkan “Maqaman Mahmudan” tempat terpuji yang dijanjikan.

2. Mendapatkan syafaat yang besar.

3. Mendapatkan perkataan yang berbobot. “Sesungguhnya Kami akan menurunkan perkataan yang berat kepadamu. Sungguh bangun malam itu lebih kuat (mengisi jiwa); dan (bacaan diwaktu itu) lebih berkesan. (QS. Al Muzzammil : 5-6) Maka, lihailah jiwa atas ijinNya. Mengolah rasa mengubah kata bijak berwibawa. Di bawah tatapan teduh penuh makna, lisan sang pecumbu malam.

4. Akan mendapatkan kelezatan ibadah. Seandainya para raja itu tahu kita mendapatkan kelezatan ibadah Qiyamullail, niscaya mereka akan membunuh kita karena iri.

5. Termasuk aktivitas ahli surga. “Sesungguhnya orang-orang bertakwa berada di dalam taman-taman (surga) dan mata air. Mereka mengambil apa yang diberikan Tuhan kepada mereka sebelum itu (di dunia) adalah orang-orang yang berbuat baik; mereka sedikit sekali tidur pada waktu malam. Dan pada akhir malam mereka memohon ampunan (kepada Allah).” (QS. 51:15-17)

Dalam sebuah hadits juga di sampaikan, dari Rasulullah saw,” Wahai sekalian manusia, sebarkanlah salam, berilah makan dan sholatlah di waktu malam, niscaya kalian akan masuk surga. (HR. Tirmidzi) Sunan Tirmidzi 2487; Hadits hasan shohih.

6. Sholat tahajud adalah sholat yang paling utama setelah sholat wajib. HR.Imam Muslim 1163 dalam kitab Shihih Muslim.

7. Sifat dan karakteristik hamba Allah yang bersyukur.  “….dan sedikit sekali dari hamba-hambaKu yang bersyukur.” (QS. 34:13)

Dari Aisyah; Adalah rasulullah saw Qiyamullail sampai kedua kakinya bengkak dan pecah-pecah. Saya bertanya, “Kenapa anda lakukan ini semua ya Rasulullah, padahal telah diampuni dosa sekarang dan yang akan datang?” jawab Rasulullah saw, “Tidakkah aku menjadi hamab Allah yang bersyukur?” (Muttafaqun alaihi)

Suatu malam Rasul sholat dan Ibnu Mas’ud serta Hudzaifah makmum di belakangnya. Di rakaat pertama beliau membaca QS Al Baqarah sampai akhir. Mereka berdua berharap sudah selesai dan takbir untuk ruku’ tapi ternyata beliau lanjutkan sampai 6 juz. Semua di baca dengan tajwid dan tartil. Dan ketika beliau ruku’ hampir sama dengan berdirinya dan sujudnya hampir sama dengan ruku’nya. Beliau qudwah teladan sepanjang hayat.

8. Ditulis sebagai ahli dzikir

9. Ada kesempatan diterima doanya. Dari jabir, “Sesungguhnya pada satu malam ada satu saat yang kalau orang itu bangun Qiyamullail dan minta kebaikan dunia dan akhirat maka Allah swt akan melakukannya. (HR. Muslim)

10. Selamat dari godaan dan gangguan setan.

11. Bangun pagi dalam keadaan giat

12.Termasuk sebaik-baik hamba Allah swt.

 

Bersegeralah mencumbu malam. Ketenangannya, gemulai nafasnya adalah romantisme tersendiri bagi hamba-hambaNya yang menghiba cinta….Cinta abadi yang tak lekang dan tiada rugi. Selamat malam CINTA. Buktikan kelezatannya, cobai gairahnya dan rasakan energi dahsyatnya.

 

 

@ode, Jan’13

Kamis, 20 September 2012

Ketika Cinta Harus Ummi


KETIKA CINTA HARUS UMMI
(Lenny Oktaviana Dewi, S.Pd)

                Suatu hari, saya begitu terusik dengan pertanyaan putraku yang ketiga…,”Ummi, besok aku menikahnya dengan siapa ya?”
“Hmm…., “jawabku tak acuh tanpa melihatnya. Terus terang saya agak kaget dan tak mau putraku melihat ekspresi  umminya waktu itu.
“Bagaimana kalau dengan ….(menyebutkan salah satu teman bermainnya sejak TK yang sekarang menjadi temannya di SD juga)”
Sambil menata hati dan mencoba berpikir cepat mencari jawaban untuknya, saya mulai mencari bola matanya yang begitu polos dan berpijar gemerlap. “Bagaimana, kalau kakak sekolah dulu yang pinter kemudian jadi mujahid kaya Abi, terus nanti insyaallah kalau Allah berkenan , kakak minta sama Allah, berdoa sungguh-sungguh supaya dipertemukan Allah “teman” yang buuaaaiiiik sekali yang mau menemani kakak sampai negeri akherat.” jawabku diplomatis.
                “Berarti masih lama ya Mi….harus dewasa dulu kaya Abi sama Ummi,” tanyanya kemudian.
“Ya sayang…., karena menikah itu adalah sebuah pekerjaan yang besar. Dan semua akan  dipertanggungjawabkan di hadapan Allah kelak. Makanya yang mau menikah harus tahu dulu mana yang boleh dan mana yang tidak boleh, mana yang baik dan mana yang buruk. Yang jelas, kakak harus banyak belajar dulu.” ujarku kemudian. Kulihat  si Kakak  terbengong-bengong mencoba mencerna petuahku.
“Eh,….memangnya kenapa sih, kok Kakak tiba-tiba pingin nikah? Masih SD lagi…” tanyaku penuh selidik.
“Ehm,….soalnya aku pingin nanti ajak anak-anakku jalan-jalan ke Pasar Minggu.” jawabnya malu-malu.
Walah….walah, aku pun terbahak mendengar jawabannya yang lugas itu. Wong pingin minta jalan-jalan aja kok mikirnya kreatif banget. Ah, indahnya bercengkerama dengan anak-anak.
                Sesaat setelah itu, saya pun mulai membayangkan jika anak-anak sudah dewasa nanti. Dari retiap perbincangan yang kuikuti dan amati mereka sudah mulai berbicara malu-malu jika menyangkut teman perempuan baik di sekolah atau di lingkungan bermainnya. Saya tidak mau berpikir terlalu jauh tentang ini. Ah, biasa anak-anak… selalu begitu. Saya akan berkomentar ketika sudah mulai menjurus agak jauh, meluruskan jika mereka terlalu asyik dengan topik itu. Atau melerainya ketika akhrnya ada yang marah dan tersinggung karena “si dia”
Lalu perlahan, ketika saatnya mereka sudah “adem” saya bercerita tentang kisah sahabat yang bertanya pada Rasulullah saw :
,Ya Rasulallah, siapakah orang yang lebih berhak dengan kebaikanku?”
Jawab Rasulullah, “Ibumu.”
Ia bertanya lagi, “Lalu siapa?” Jawabnya, “Ibumu.”
Ia bertanya lagi, “Lalu siapa?” Jawabnya, “Ibumu.”
Ia bertanya lagi, “Lalu siapa?” Jawabnya, “Ayahmu.”
Kupandangi wajah mereka satu persatu, di dalam hati aku bergumam, Masyaallah apakah aku akan kehilangan mereka setelah mereka menemukan tambatan hati dan menikah? Seperti inikah hati Ibuku dulu saat aku dipinang Abinya?
Egoku pun berbicara, bukankah aku ibunya lebih berhak atasnya, karena telah mengandung, melahirkan dan membesarkannya selama ini….Yah, ternyata aku pun cemburu pada anak-anakku. Lalu, kujelaskan perlahan, bahwa jika sudah tiba saatnya Allah akan menunjukkan siapa pendamping hidup kita kelak, yang sudah ditentukan jauh sebelum kita lahir tentang jodoh, rezeki, hidup dan mati. Ummi hanya bisa mendoakan Allah berikan yang terbaik untuk anak-anak Ummi. Karena Ummi yakin, laki-laki yang baik pasti untuk wanita yang baik. Dan laki-laki yang buruk untuk wanita yang buruk juga. Serta sebaliknya. Maka tugas Ummi dan Abi sekarang adalah mengantarkan anak-anak mencintai Allah dan Rasulnya terlebih dulu, insyaallah cinta kepada “teman” tadi akan mengikuti kemudian. Mencintai pasangan setelah mencintai Allah, Rasul dan jihad di jalanNya.
Hmmm…..pelajaran hari itu sementara cukup, saya yakin, seiring berjalannya waktu, ketika perlahan mereka tumbuh dewasa, pertanyaan yang lebih rumit pasti akan mencercaku…dan semoga saya sudah punya jawaban saat itu. Sebagai orang tua betapa inginnya anak-anak selalu bertanya padaku, agar tidak salah mereka mendapat jawaban. Aku ingin anak-anak terbuka dan mencurahkan seluruh isi hatinya pada aku, ibunya, agar aku bisa tetap menjaganya dan merasakan cintanya padaku. Sehingga aku tidak perlu cemburu.
Ya Allah, ijinkan kami mendapatkan keberkahan dengan hadirnya anak-anak penyejuk mata kami kedua orang tuanya. Aamiiin.
 


@Ode, Sept’12






Selasa, 15 Mei 2012

Bahagia Saat Hamil (kelima)


Bahagia Saat Hamil
(Lenny Oktaviana Dewi, S.Pd)
Tak terasa usia kehamilan ke lima sudah memasuki bulan ke tujuh. Tidak seperti ke empat kakak-kakaknya, kehamilan yang sekarang terasa berbeda. Selain karena jarak kehamilan yang sekarang lebih panjang daripada sebelumnya, persiapan yang saya butuhkan untuk kehamilan kelima ini juga tidak seheboh sebelumnya. Saya lebih terkesan santai dan PeDe.
                Kehamilan menjadi saat-saat yang sangat ditunggu pasangan suami istri. Kehamilan juga pertanda datangnya berkah dari Allah SWT. Maka menjalaninya adalah menikmati keberkahan hidup demi kebahagiaan negeri Akherat. Menarik nafasnya adalah saat merasakan semakin sesak dan terengah-engah bulan demi bulannya. Perjalanan yang semakin terseok terbawa beban yang semakin memberat bulan demi bulannya. Kalau bukan karena motivasi tengah meniti setapak SyurgaNYa, tentu amatlah berat terasa.
                Allah SWT berfirman, yang artinya, “Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya. Ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: “Ya Tuhanku tunjukkanlah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau Ridhai, berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertobat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” (Al Ahqaf:15)
                Merasakan dan mentafakuri, sekelebat perasaan serupa tengah dirasa oleh ibunda tercinta saat mengandung dan membesarkan kita. Sekeluh itulah mungkin ibu saat terlewat mengandung dan membesarkan kita dahulu. Maka segeralah meneleponnya dan sampaikan rasa cinta dan terus berharap doa dan restunya. Dan bersegeralah tengadahkan tangan menderas doa untuknya, andai beliau telah tiada.

                Inilah saatnya berlatih kesabaran. Allah berfirman, yang artinya; “Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada kedua orang ibu bapaknya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKU dan kepada kedua ibu bapakmu, hanya kepadaKu lah kembalimu.” (Luqman:14)
                Merasakan kandungan yang semakin terasa berat dan badan yang semakin lemah, inilah saatnya bergembira karena jihad yang sebenarnya telah dimulai. Saatnya untuk menguatkan mental dan pikiran. Perbanyak menyebut namaNya dan menambahkan helai demi helai kesabaran. Ini baru kehamilan, dan insyaallah perjuangan masih panjang. Pergerakan si kecil dalam rahim akan menghibur dan memberi rasa rindu untuk segera bersua.
                Nah, bulan semakin bertambah, saat-saat akhir kehamilan menjelang persalinan telah menanti. Yakinkan kondisi ibu benar-benar  fit dan prima untuk siapkan jihad besar melahirkan jabang bayi. Inilah beberapa hal yang bisa ibu lakukan untuk memperkuat mental dan fisik jelang persalinan;
1.       Memperbanyak Shalat Sunah
Selain semakin mendekatkan diri kepada Allah, gerakan sholat akan melancarkan peredaran darah, menguatkan otot dan tulang, serta perbaikan pernafasan. Secara khusus otot jantung akan semakin kuat,menormalkan tekanan darah, dan menguatkan paru-paru.
2.       Memperlama sujud
Posisi sujud menjadikan kita semakin dekat dengan Allah. Perbanyaklah doa dan perpanjang untainya. Mohonkan dan keluhkan segala kesah kita. Insyaallah terijabah dengan keikhlasan kita. Sikap sujud juga lebih memperlancar aliran darah menuju otak sehingga pusat kesadaran dan kemampuan berpikir kita akan semakin baik. Bagi janin juga bisa membuat ia lebih cerdas dan lincah.
3.       Memperlama  Dzikir
Berdzikirlah dengan mengucapkan kalimat thoyyibah sepenuh yakin, fokus dan serius. Al Asmaul Husna yang kita baca akan mengantarkan pada pikiran yang khusyuk.
4.       Merasakan kehadiran Allah
Dzikir mendatangkan ketenangan dan percaya diri selama kehamilan dan saat-saat kritis menghadapi persalinan nanti. Allah berfirman: “(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi seraya berkata,”Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (Ali Imran:191)
5.       Memperbanyak Doa
Efeknya sangat baik untuk kesehatan dan kecerdasan ibu maupun jabang bayi dalam kandungan. Doa memperbaiki motivasi, rasa percaya diri, emosi dan kejiwaan.
6.       Tawakal ketika Detik-detik Persalinan
Berserah diri dan bertawakal penuh kepada Allah saat-saat merasakan mulas atau sakit sekitar perut. “Cukuplah Allah bagiku; tiada Tuhan selain Dia. Hanya kepadaNya aku bertawakal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki ‘Arsy yang agung.” (At Taubah: 129)


Alhamdulillah wa syukurillah, begitu si kecil lahir tetaplah berdoa. Ucapkan salam, cium dan telungkupkan di dada ibu. Biarkan ia merangkak dan mencari rezeki pertamanya di dunia ini, ASI yang suci dan mulia dari Allah. Mohonlah kepada Allah agar ia diberi perlindungan dari segala keburukan dan kelak menjadi keturunan yang menyenangkan.
“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati kami, dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa. “ (Al Furqon:74)

@Ode, Apr’12

Senin, 20 Februari 2012

Bahaya Buruk Sangka


Bahaya Buruk Sangka
(Lenny Oktaviana Dewi, S.Pd)
                Pernahkah ada saat kita merasa pertolongan Allah itu tidak kunjung datang menghampiri kita? Atau kegelisahan hati yang tak jua reda. Meredam jiwa dengan berbagai cara, tapi beban yang menghimpit tak jua sirna. Hari-hari terasa panjang dan membosankan, meniti detik dan menit tersiksa batin. Memandang dunia begitu menghimpit, langit seakan runtuh, bumi enggan dipijak dan alam panas membara tak ada semilir kesejukan yang meniup bahagia. Waspadalah, mungkin kita telah salah maletakkan prasangka…..
“Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian dari prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada di antara kamuyang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertaqwalah kepada Allah, sungguh Allah Maha Penerima tobat, Maha Penyayang.”  (QS. Al Hujuraat:12)
                Mungkin, kita telah mencicip bangkai, Naudzubillah… lisan kita tersandung gunjing. Membicarakan aib sesama. Terus berlanjut, karena renyah memang membicarakan kekurangan orang lain. Apalagi orang yang kita anggap pesaing kita. Astaghfirullah…. Rasulullah sendiri yang mewanti-wanti agar kita menjauhi gunjing, karena ia lebih hina dari zina. Kalau pelaku zina Allah langsung menerima tobatnya, maka penggunjing harus meminta keridhoan orang yang digunjing.
                Maka tafakurlah sejenak, inilah saat kita perbaiki kualitas diri lebih baik lagi dari jejak kemarin. Menata lisan agar tidak tergelincir, menata hati agar terpadu fikir. Betapa gunjing, ghibah, dan buruk sangka menjadikan siksa batin dan jiwa. Menghalangi langkah lempang kita menuju bahagia dunia dan negeri akherat.
Inilah dampak yang akan terasa:
1.       Jauh dari kasih sayang Allah
Kasih sayang Allah adalah segala-galanya. Maka betapa meruginya kita yang kehilangannya. Betapa mengerikan membayangkan Allah tak lagi berpihak pada kita. Betapa menyedihkan hidup kita tanpa kasih sayangNya. Betapa Arrahman dan Arrahiimnya perlahan tapi pasti tak lagi kita rasakan dalam hari-hari kita. Maka wajarlah, pertolongan itu tak kunjung menghampiri. Sempit dada dan gelisah batin meski dunia ada dalam genggamannya.
2.       Malaikat enggan berkawan dengannya
Masih teringat nasihat Ali Mutawali Ali kepada para perempuan, agar kita merasakan kebersamaan malaikat? Diantaranya beliau berpesan agar kita memiliki budi pekerti yang mulia berkat ketenangan, toleransi , suka memaafkan, kasih sayang dan ketaqwaan. Maka insyaallah malaikat akan berkawan. Tapi sebaliknya, bila jiwa kita mudah menyalahkan, memandang buruk kebaikan, terparah prasangka terkotor nista, maka malaikat akan enggan berkawan.
3.       Terlepasnya badan dengan nyawa terasa pedih
Rasulullah merasakan sakit saat sakaratul maut, dan beliau rela merasakannya asal umatnya tidak merasakan seperti yang beliau rasakan. Padahal beliau adalah orang yang terampuni segala dosa, terjamin syurga dan kebahagiaan negeri akherat. Tapi lihatlah detik-detik terakhir kehidupan beliau di dunia, begitu khawatirnya beliau membayangkan umatnya yang bergelimang dosa, terasa sakit dan pedih saat badan terpisah dengan nyawa.  Ummatii…..ummatii…. Maka jauhilah prasangka yang menjurus ghibah dan gunjing yang tiada habis menyiksa batin.
4.       Terjerumus ke dalam neraka
Mengapa harus menjalani derita tak tertanggung di negeri keabadian? Marilah berlindung kepadaNya, terjauhkan siksa abadi, menderita batin lebih parah lagi. Naudzubillahi min dzalika…. Sederhana tapi menyiksa.
5.       Jauh dari Syurga
Mengetuk pintu syurga dengan ghibah dan buruk sangka? Nanti dulu,…jangankan mengetuknya, mendekatinya pun belum tentu. Jalannya tertutup rapat untuk para penggunjing, penyebar fitnah dan penikmat ghibah. Maaf….silahkan lewat. Betapa ruginya kita.
6.       Merasakan beratnya siksa kubur
Menanti tertiup sangkakala saat hari perhitungan tiba yang terasa menyiksa. Setiap hari terhantam gada dan palu malaikat penjaga kubur. Badan hancur dikandung tanah, jiwa teraniaya, sakit tiada terkira. Akibat dosa yang tak jua kita menyadarinya. Semudah lisan menggunjing dan hati berprasangka, semudah itu pula malaikat menyiksa. Menghimpit kubur dan menggelontor dera. Naudzubillahi min dzalika….
7.       Kehilangan amal baiknya di dunia karena terhapus dosa ghibah
Kelak ada orang yang menerima kitab amal baiknya padahal dia tidak pernah melakukannya. Ternyata setelah ditanyakan, nyatalah bahwa,” Ini adalah amal orang-orang yang menggunjingmu ….”
Hasan Al Basri bahkan pernah memberikan suguhan senampan penuh kepada orang-orang yang menggunjingnya. Ia berterima kasih, karena bertambahlah amal baiknya atas gunjingan orang lain.
8.       Jiwa Nabi SAW sakit akan ghibah
Betapa Nabi SAW menyanyangi kita umatnya. Dan relakah kita menyakitinya, karena rapuhnya lisan kita mengekang hawa nafsu. Tersungkur malu, jiwa yang khianat mengaku mencintainya tetapi tak terkendali mengekang batin dari buruknya sangka dan renyahnya dusta.
9.       Allah marah kepadanya
Kalau Allah marah, marahlah seluruh penduduk langit dan bumi. Kemana lagi kita kan sembunyi. Sedangkan semua adalah kepunyaanNya. Mampukah kita menanggung derita, atas perbuatan kita sendiri?
10.   Menipis amal baiknya di hadapan Allah saat akan mendekati  mizan
Apa lagi yang akan kita banggakan di hadapan Allah. Amal baik yang hanya secuil itu harus tergerogoti satu-satu karena terhapus oleh dusta lisan kita. Gunjing, ghibah, namimah, dan buruk sangka, menipiskan amal kebaikan yang sudah susah payah kita membangunnya.  Relakah dirimu, mengikuti segolongan orang. Mereka membawa bekal sedangkan tanganmu hampa.

Sekali lagi, tafakurlah sejenak mengingat diri,”Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olokkan lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok), dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olokkan)perempuan yang lain. (karena) boleh jadi perempuan (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari perempuan-perempuan  (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela satu sama lain, dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk (panggilan) adalah panggilan yang buruk (fasik), setelah beriman. Dan barang siapa yang tidak bertobat, maka itulah orang-orang yang dzolim. (QS. Al Hujuraat: 11)
Lalu nasehat mana lagi yang akan kita ikuti, selain pengingat dari Allah Rabbul Izzati? Masihkah mudahkan diri, terlepas kendali mengekang lisan dan menjaga hati. Singkirkan nafsu baikkan budi. Mari kita mulai….!





Malang, Feb 12



Minggu, 12 Februari 2012

Semangat Pagi Bunda Hebat

Assalamualaikum...Selamat pagi.Ayo semangat....Pagi ini jadwalnya full sampai petang. Jadi harus jaga semangat terutama stamina. Bunda Hebat harus siap siaga, karena tugas kita full lho. Persiapan ruhiyah, fikriyah dan tentu saja jasadiyah. Alhamdulillah bersyukurlah yang bisa bangun tadi malam untuk qiyamullail lanjut dengan tilawah satu juz, jamaah ke masjid dan dzikir. Semoga bisa jadi bahan bakar energi full semangat hari ini.