Senin, 20 Februari 2012

Bahaya Buruk Sangka


Bahaya Buruk Sangka
(Lenny Oktaviana Dewi, S.Pd)
                Pernahkah ada saat kita merasa pertolongan Allah itu tidak kunjung datang menghampiri kita? Atau kegelisahan hati yang tak jua reda. Meredam jiwa dengan berbagai cara, tapi beban yang menghimpit tak jua sirna. Hari-hari terasa panjang dan membosankan, meniti detik dan menit tersiksa batin. Memandang dunia begitu menghimpit, langit seakan runtuh, bumi enggan dipijak dan alam panas membara tak ada semilir kesejukan yang meniup bahagia. Waspadalah, mungkin kita telah salah maletakkan prasangka…..
“Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian dari prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada di antara kamuyang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertaqwalah kepada Allah, sungguh Allah Maha Penerima tobat, Maha Penyayang.”  (QS. Al Hujuraat:12)
                Mungkin, kita telah mencicip bangkai, Naudzubillah… lisan kita tersandung gunjing. Membicarakan aib sesama. Terus berlanjut, karena renyah memang membicarakan kekurangan orang lain. Apalagi orang yang kita anggap pesaing kita. Astaghfirullah…. Rasulullah sendiri yang mewanti-wanti agar kita menjauhi gunjing, karena ia lebih hina dari zina. Kalau pelaku zina Allah langsung menerima tobatnya, maka penggunjing harus meminta keridhoan orang yang digunjing.
                Maka tafakurlah sejenak, inilah saat kita perbaiki kualitas diri lebih baik lagi dari jejak kemarin. Menata lisan agar tidak tergelincir, menata hati agar terpadu fikir. Betapa gunjing, ghibah, dan buruk sangka menjadikan siksa batin dan jiwa. Menghalangi langkah lempang kita menuju bahagia dunia dan negeri akherat.
Inilah dampak yang akan terasa:
1.       Jauh dari kasih sayang Allah
Kasih sayang Allah adalah segala-galanya. Maka betapa meruginya kita yang kehilangannya. Betapa mengerikan membayangkan Allah tak lagi berpihak pada kita. Betapa menyedihkan hidup kita tanpa kasih sayangNya. Betapa Arrahman dan Arrahiimnya perlahan tapi pasti tak lagi kita rasakan dalam hari-hari kita. Maka wajarlah, pertolongan itu tak kunjung menghampiri. Sempit dada dan gelisah batin meski dunia ada dalam genggamannya.
2.       Malaikat enggan berkawan dengannya
Masih teringat nasihat Ali Mutawali Ali kepada para perempuan, agar kita merasakan kebersamaan malaikat? Diantaranya beliau berpesan agar kita memiliki budi pekerti yang mulia berkat ketenangan, toleransi , suka memaafkan, kasih sayang dan ketaqwaan. Maka insyaallah malaikat akan berkawan. Tapi sebaliknya, bila jiwa kita mudah menyalahkan, memandang buruk kebaikan, terparah prasangka terkotor nista, maka malaikat akan enggan berkawan.
3.       Terlepasnya badan dengan nyawa terasa pedih
Rasulullah merasakan sakit saat sakaratul maut, dan beliau rela merasakannya asal umatnya tidak merasakan seperti yang beliau rasakan. Padahal beliau adalah orang yang terampuni segala dosa, terjamin syurga dan kebahagiaan negeri akherat. Tapi lihatlah detik-detik terakhir kehidupan beliau di dunia, begitu khawatirnya beliau membayangkan umatnya yang bergelimang dosa, terasa sakit dan pedih saat badan terpisah dengan nyawa.  Ummatii…..ummatii…. Maka jauhilah prasangka yang menjurus ghibah dan gunjing yang tiada habis menyiksa batin.
4.       Terjerumus ke dalam neraka
Mengapa harus menjalani derita tak tertanggung di negeri keabadian? Marilah berlindung kepadaNya, terjauhkan siksa abadi, menderita batin lebih parah lagi. Naudzubillahi min dzalika…. Sederhana tapi menyiksa.
5.       Jauh dari Syurga
Mengetuk pintu syurga dengan ghibah dan buruk sangka? Nanti dulu,…jangankan mengetuknya, mendekatinya pun belum tentu. Jalannya tertutup rapat untuk para penggunjing, penyebar fitnah dan penikmat ghibah. Maaf….silahkan lewat. Betapa ruginya kita.
6.       Merasakan beratnya siksa kubur
Menanti tertiup sangkakala saat hari perhitungan tiba yang terasa menyiksa. Setiap hari terhantam gada dan palu malaikat penjaga kubur. Badan hancur dikandung tanah, jiwa teraniaya, sakit tiada terkira. Akibat dosa yang tak jua kita menyadarinya. Semudah lisan menggunjing dan hati berprasangka, semudah itu pula malaikat menyiksa. Menghimpit kubur dan menggelontor dera. Naudzubillahi min dzalika….
7.       Kehilangan amal baiknya di dunia karena terhapus dosa ghibah
Kelak ada orang yang menerima kitab amal baiknya padahal dia tidak pernah melakukannya. Ternyata setelah ditanyakan, nyatalah bahwa,” Ini adalah amal orang-orang yang menggunjingmu ….”
Hasan Al Basri bahkan pernah memberikan suguhan senampan penuh kepada orang-orang yang menggunjingnya. Ia berterima kasih, karena bertambahlah amal baiknya atas gunjingan orang lain.
8.       Jiwa Nabi SAW sakit akan ghibah
Betapa Nabi SAW menyanyangi kita umatnya. Dan relakah kita menyakitinya, karena rapuhnya lisan kita mengekang hawa nafsu. Tersungkur malu, jiwa yang khianat mengaku mencintainya tetapi tak terkendali mengekang batin dari buruknya sangka dan renyahnya dusta.
9.       Allah marah kepadanya
Kalau Allah marah, marahlah seluruh penduduk langit dan bumi. Kemana lagi kita kan sembunyi. Sedangkan semua adalah kepunyaanNya. Mampukah kita menanggung derita, atas perbuatan kita sendiri?
10.   Menipis amal baiknya di hadapan Allah saat akan mendekati  mizan
Apa lagi yang akan kita banggakan di hadapan Allah. Amal baik yang hanya secuil itu harus tergerogoti satu-satu karena terhapus oleh dusta lisan kita. Gunjing, ghibah, namimah, dan buruk sangka, menipiskan amal kebaikan yang sudah susah payah kita membangunnya.  Relakah dirimu, mengikuti segolongan orang. Mereka membawa bekal sedangkan tanganmu hampa.

Sekali lagi, tafakurlah sejenak mengingat diri,”Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olokkan lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok), dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olokkan)perempuan yang lain. (karena) boleh jadi perempuan (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari perempuan-perempuan  (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela satu sama lain, dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk (panggilan) adalah panggilan yang buruk (fasik), setelah beriman. Dan barang siapa yang tidak bertobat, maka itulah orang-orang yang dzolim. (QS. Al Hujuraat: 11)
Lalu nasehat mana lagi yang akan kita ikuti, selain pengingat dari Allah Rabbul Izzati? Masihkah mudahkan diri, terlepas kendali mengekang lisan dan menjaga hati. Singkirkan nafsu baikkan budi. Mari kita mulai….!





Malang, Feb 12



Minggu, 12 Februari 2012

Semangat Pagi Bunda Hebat

Assalamualaikum...Selamat pagi.Ayo semangat....Pagi ini jadwalnya full sampai petang. Jadi harus jaga semangat terutama stamina. Bunda Hebat harus siap siaga, karena tugas kita full lho. Persiapan ruhiyah, fikriyah dan tentu saja jasadiyah. Alhamdulillah bersyukurlah yang bisa bangun tadi malam untuk qiyamullail lanjut dengan tilawah satu juz, jamaah ke masjid dan dzikir. Semoga bisa jadi bahan bakar energi full semangat hari ini. 

Kamis, 09 Februari 2012

Bun,.....Jangan Marah ya....

“Bun,…..Jangan Marah ya…”

(Lenny Oktaviana Dewi, S.Pd)

Dalam sebuah sesi pelatihan parenting, sang Trainer bertanya kepada peserta yang hadir,” Siapa yang hari ini sudah marah pada putranya?”

Maka terangkatlah beberapa tangan malu-malu dari deretan peserta yang hadir. “Alhamdulillah, saya sedang berhadapan dengan orang-orang yang normal,” ujar sang Trainer kemudian. Dan meledaklah tawa peserta menyusul tanggapan trainer tersebut.

Marah adalah emosi spontanitas yang muncul ketika terjadi sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan dan kebutuhan kita

Marah bisa menjadi positif ketika bertujuan mempertahankan kebenaran dan mengajarkan kebaikan

Marah pun bisa menjadi negatif jika hanya karena memperturutkan hawa nafsu dan emosi

Marah negatif harus ditekan dan dihilangkan, sementara Marah positif disalurkan dengan cara yang efektif (Irawati Istadi dalam bukunya Ayo Marah)

Menurut beberapa hasil penelitian, karakter kita yang sekarang terbentuk sebagai hasil dari apa yang kita alami di lima tahun awal kehidupan kita. Dan karakter pemarah bukan diperoleh dari keturunan, tetapi di pelajari otak dari pengasuhan dan pembiasaan.

Masih menurut penelitian di Amerika kepada 500 responden yang semasa bayinya mendapatkan pola pengasuhan yang baik, dalam arti mendapatkan kasih sayang, kelembutan dari orang tuanya, maka setelah 30 tahun kemudian didapati bahwa mereka adalah pribadi-pribadi yang mampu mengatasi persoalan hidupnya, mampu mengelola kecemasan dan emosi negatifnya dengan lebih baik.

Seandainya kita mau sedikit saja mengingat dan mengiang-ngiangkannya di telinga kita sabda Rasulullah SAW, “Orang kuat itu bukanlah orang yang menang dalam gulat tetapi orang yang kuat adalah yang mampu menahan nafsu amarahnya. (HR Bukhari Muslim) Insyaallah, semoga kita termasuk orang-orang yang bersegera dalam ampunan Allah dan kepada surgaNya yang seluas langit dan bumi yang diperuntukkan bagi orang-orang yang bertaqwa, yaitu diantaranya yang mampu menahan amarahnya, seperti dalam firmanNya di dalam Surat Ali Imron ayat 133-134.

Mar’ah Sholihah, menjalani peran sebagai ibu bagi anak-anak kita atau pendidik untuk murid-murid kita baik disekolah maupun anak-anak disekitar kita adalah peran yang sangat membahagiakan. Seringkali motivasi terbesar kita adalah mengalirkan ilmu kebaikan yang kita sudah dapat baik di bangku sekolah kita atau dari tadabur dan tafakur kita. Karena pahala yang Allah janjikan tak kan putus bagi ilmu yang bermanfaat setelah anak yang sholih dan sedekah jariyah. Hati yang selalu bersyukur, pasangan hidup yang sholih, anak yang yang sholih dan berbakti, lingkungan yang kondusif, harta yang halal, bersemangat memahami ilmu agama dan umur yang barakah adalah indikator kebahagiaan dunia.Maka nasehat anak-anak kita seperti judul di atas cukuplah untuk menjadi pengingat kita, “Bun,…jangan marah ya…!” karena anak-anak kita berhak mendapatkan lingkungan dan suasana yang membuatnya menjadi orang yang tangguh di kemudian hari. Atau mungkin nasehat anak-anak kita belum mampu meluluhkan hati kita, maka ingatlah selalu nasehat ini, Aku berkata; Ya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam berwasiat kepadaku. Beliau bersabda; ‘Jangan menjadi pemarah’. Maka berkata seseorang; ‘Maka aku pikirkan apa yang beliau sabdakan, ternyata pada sifat pemarah itu terkumpul seluruh kejelekan’. (HR Imam Ahmad) Marah yang efektif adalah marah tanpa emosi. Menunjukkan ketegasan, namun tetap dengan memperhatikan psikologis anak. Mendidik anak dengan cara marah baru boleh dilakukan setelah upaya peringatan yang lain telah diupayakan terlebih dahulu.

Orangtua boleh marah setelah memastikan dirinya terbebas dari masalah diri sendiri.

“Bun,…jangan marah ya…tadi aku menjatuhkan televisi.” Itu pengakuan anak kedua saya yang berumur 8 tahun beberapa hari yang lalu. Saya tersenyum dan memintanya menunggu jawaban dari saya untuknya beberapa saat lagi, karena saya ingin membebaskan diri saya dari masalah saya sendiri, bahwa saya sangat capek hari itu dan harus segera berangkat mengisi acara Bedah Buku untuk Guru-guru POS PAUD. Maka saya juga harus berpikir cepat memberinya konsekuensi logis atas perbuatannya.

Hmmm…..menahan marah sungguh indah janji yang Allah berikan pada saya begitu saya bisa melakukan itu. Dan saya mengiang-ngiangkan nasehat Rasulullah di atas sambil membayangkan saya mendengarkannya sendiri dari lisan beliau. Duh,….saya memandang wajah polos itu dan memeluknya sambil berkata, “Lain kali kamu pasti bisa lebih berhati-hati, dan menuruti nasehat bunda, setelah ini rapikan kembali ruangannya dan bereskan yang tercecer, lalu mintalah maaf pada semua saudaramu dan kepada Ayah juga, karena setelah ini kita semua tidak bisa menonton televisi lagi.”

Lalu, adakah nasehat yang lebih baik daripada menasehati diri sendiri? Mengapa tidak kita jadikan momen-momen berharga bersama anak-anak kita, adalah saat-saat kita menjadi pribadi yang lebih baik lagi dari hari kehari. Bersama anak-anak, sungguh membuat jiwa kita terasah kelembutannya. Teruslah lantunkan doa; “Duhai Allah, jadikanlah anak-anak kami penyejuk mata kami, jadikanlah mereka jalan lempang kami menuju surgaMu dengan menjaga amanah terbaik milik kami. Bantu kami ya Allah, menjadi ibu-ibu yang terpancar teladan dan kebaikan untuk mereka anak-anak titipanMU.” Amiiin.

Jan’12

Selasa, 07 Februari 2012

AGAR CINTA TIDAK GOMBAL

(Lenny Oktaviana Dewi, S,Pd)

Wah, sudah jelang bulan Februari nih. Biasanya seantero dunia berubah menjadi satu warna saja….yaitu pink, merah jambu, merah agak-agak ungu atau merah sendu. Warna yang lain, mana laku. Kuning merana, hijau apalagi. Paling sedikit biasanya nyempil di sela-sela si merah jambu. Hitam paling tabu bertamu, apalagi abu-abu dan biru. Seolah kehadiran mereka hanya menjadikan rusaknya suasana dan muramnya dunia.

Cinta, kasih sayang dan merah jambu menjadi topik perbincangan paling seru di bulan Februari. Dari pesta-pesta, ajang ngerumpi, sampai yang berbau intelek semacam seminar, talk show atau bedah buku. Seakan semua tak mau ketinggalan membahas tema ini. Sebetulnya apa sih yang menarik dari tema besar itu? Cinta dan Kasih sayang yang tengah menjadi buah bibir terutama di bibir-bibir gadis-gadis belia seluruh dunia?

Kasih sayang atau dalam bahasa Arabnya disebut Al Mahabbah makna asalnya adalah bening dan bersih. Sebab bangsa Arab menyebut istilah bening ini untuk gigi yang putih. Ada pendapat lain, yang diambilkan dari kata al habab, yaitu air yang meluap setelah turun hujan yang lebat. Dari sini dapat diartikan bahwa al mahabbah adalah luapan hati dan gejolaknya saat dirundung keinginan untuk bertemu dengan sang kekasih. Ada pula yang mengartikannya tenang dan teguh, seperti onta yang tenang dan tidak mau bangun lagi setelah menderum. Jadi, seakan-akan orang yang mencintai itu telah mantap hatinya terhadap orang yang dicintai dan tidak terbetik untuk beralih darinya. Tapi ada pula yang justru mengartikan sebaliknya, yaitu gundah yang tidah tetap.

Maka lihatlah, para gadis itu…menjelang bulan sakral ini yang belum punya kekasih, atau sudah ada incaran tapi bingung nunggu reaksi dari incarannya, pasti gelisah tak menentu. Malam terasa panjang, siang begitu membosankan. Sore apalagi, terasa menjemukan. Teh terasa jamu, coklat membikin linu. Menanti kepastian yang tak pasti, ujung yang tak berawal, pangkal yang tak berujung. Gundah yang tidak tetap, itulah cinta.

Yang sudah berpasangan, terbawa gundah pula tampaknya. Memilih baju satu lemari seperti tampak satu toko. Belum sepatu, parfum, tas, pita, bandana, anting dan gelang kaki. Takut tidak serasi, tidak matcing lebih-lebih bila bertemu untuk ngedate esok hari dengan si dia. Gelisah yang menyenangkan, gundah yang menggairahkan. Alangkah indahnya, jika perasaan itu berujung pada kebahagiaan yang abadi. Cinta dan Kasih Sayang yang akan kita bawa sampai mati. Kekasih sejati, yang cintaNya tidak berpatok pada Februari, tapi bergulir terus sepanjang hari sampai ujung akherat nanti. Senantiasa berharap dan memendam rindu yang menggelora akan perjumpaan denganNya. “Barang siapa yang mengharap pertemuan dengan Allah, maka sesungguhnya waktu (yang dijanjikan) Allah itu pasti datang “ (Al Ankabut: 5)

Seorang ulama berkata, “Tatkala Allah mengetahui kerinduan orang-orang yang ingin bertemu denganNya, maka Dia membuat janji pertemuan untuk menenangkan hati mereka.” Inilah kerinduan sesungguhnya yang menggairahkan. Tidak palsu dan tidak semu. Tidak terbatas ruang dan waktu.

Maka masihkah kita perlu, untuk memuja cinta palsu. Cinta yang hanya membuat kita pilu. Karena tak berbalas selain janji palsu. Kekasih mati, matilah cintanya. Cinta monyet apalagi, cintanya pergi tinggallah monyetnya….”Dan, adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Rabbnya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya.” (An Naziat: 40-41) Kita bisa hadirkan surga di dunia ini asal kita mau bercinta kepadaNya. Maka inilah kiat-kiat bercinta karena dan untuk Allah SWT. Agar cinta kita tidak segombal cinta merah jambu.

“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam sholatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali kepada istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tida tercela. Barang siapa yang mencari di balik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. “ (Al Mukminun: 1-7)

Inilah motivasi terbesar kita, menjadi orang-orang yang beruntung. Agar selanjutnya perkataan dan perbuatan kita tidak sia-sia.

Pertama sekali, yakinlah sedalam hati Allah pemilik cinta abadi. Cintanya tak pernah berpaling ke lain hati. Hanya Dia yang cintanya kita bawa mati, bersua lagi di negeri abadi. Ingatlah janjinya tak pernah palsu, “Sesungguhnya Allah tak pernah menyalahi janji” Kecemburuannya, apabila kita menduakannya. Mencari tandingan selainnya. Siapakah yang bisa menandinginya. Dia punya segalanya, langit dan bumi serta isinya. Maka penuhilah bilik hatimu dengan Mahabbah kepadaNya. Gelisah dan memendam rindu yang menggebu. Menanti pujaan bertabur kebahagiaan. Buktikanlah dengan cintamu, agar CintaNya menjadi kan pula milikmu:

1. Hujamkan pandangan mata, kerlingkan untuk menatap sujud padaNya. Memandang kagum ke Maha anNya. Maka kita tak akan sudi lagi memandang selainNya.

2. Malu-malulah jika Dia memandangmu. Untuk itu pandanglah hanya ke bawah, ke permukaan tanah. Tempat tersungkur hina jiwa kita. Sungkan dan malu terlingkup rasa Dia terAgung sepanjang masa. “Penglihatan (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya.” (An Najm: 17) Ini merupakan gambaran adab. Pandangan tidak boleh beralih-alih, apalagi saat kita khusyukkan sholat. Berdiri tegap, menundukkan kepala dan mengarahkan pandangannya ke tempat sujud.

3. Banyaklah mengingat yang kita cintai, membicarakan dan menyebut namaNya. Siapa yang mencintai sesuatu, tentu dia banyak mengingatnya. Dengan hati, maupun menyebut dengan lidah. “Hai orang-orang yang beriman, apabila kalian memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kalian dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kalian beruntung.” (Al Anfal: 45) Penyebutan yang paling baik adalah yang keluar dari cinta. Sebutlah banyak-banyak Asmanya, panggillah dalam segala rasa, dalam suka ataupun duka. Dia Maha mendengar lagi Maha mengetahui.

4. Tunduklah pada perintah kekasih kita dan mendahulukannya daripada kepentingan diri sendiri. Bersegeralah memenuhi panggilanNya, tanpa tunggu dulu.

5. Bersabarlah terhadap ujianNya. Yakinlah bahwa Dia ingin mengetahui sejauh mana kadar cintamu.

6. Cintailah tempat dan rumahNya. Kunjungilah selalu masjidNya. “Dan sucikanlah rumahKu ini bagi orang-orang yang thawaf” ( Al Hajj: 26)

7. Mencintai apa yang dicintaiNya.

8. Kaget dan gemetar tatkala berhadapan.Mengurai khauf (takut) dan roja’ (harap) kita saat mengadu padaNya. Takutkan Ketidak ridhoannNya dan harapkan Kasih sayang dan pengampunanNya.

9. Berkorban sepenuh keridhoan.

10. Sukalah menyendiri. Berkhalwat, memadu kasih denganNya.

Maka adakah kenikmatan selain kenikmatan bercinta denganNya. Menjaminkan surga dan kebahagiaan hakiki. Tak perlu menunggu waktu untuk mengungkap rindu, memerah jambukan hati apalagi menyebut nista duniawi. Di hadapanNya hanyalah para perindu surga. Yang berebut cinta tanpa gombal apalagi habiskan pulsa. Chemistri milik orang berhati, karena Allah pemilik hati ini.

Malang, jan’12

Rabu, 21 September 2011

Menikmati Syukur

Menikmati Syukur
Oleh: Lenny Oktaviana Dewi,S.Pd

Suatu hari Allah s.w.t. memerintahkan malaikat Jibri a.s. untuk pergi menemui salah satu makhluk-Nya yaitu kerbau dan menanyakan pada si kerbau apakah dia senang telah diciptakan Allah s.w.t. sebagai seekor kerbau. Malaikat Jibril a.s. segera pergi menemui si Kerbau.

            Di siang yang panas itu si kerbau sedang berendam di sungai. Malaikat Jibril a.s. mendatanginya kemudian mulai bertanya kepada si kerbau, "Hai kerbau apakah kamu senang telah dijadikan oleh Allah s.w.t. sebagai seekor kerbau?".
Si kerbau menjawab, "Masya Allah, alhamdulillah, aku bersyukur kepada Allah s.w.t. yang telah menjadikan aku sebagai seekor kerbau, daripada aku dijadikan-Nya sebagai seekor kelelawar yang ia mandi dengan kencingnya sendiri". Mendengar jawaban itu Malaikat Jibril a.s. segera pergi menemui seekor kelelawar.

            Malaikat Jibril a.s. mendatangi seekor kelelawar yang siang itu sedang tidur bergantungan di dalam sebuah gua. Kemudian mulai bertanya kepada si kelelawar, "Hai kelelawar apakah kamu senang telah dijadikan oleh Allah s.w.t. sebagai seekor kelelawar?".
 "Masya Allah, alhamdulillah, aku bersyukur kepada Allah s.w.t. yang telah menjadikan aku sebagai seekor kelelawar dari pada aku dijadikan-Nya seekor cacing. Tubuhnya kecil, tinggal di dalam tanah, berjalannya saja menggunakan perutnya", jawab si kelelawar. Mendengar jawaban itu pun Malaikat Jibril a.s. segera pergi menemui seekor cacing yang sedang merayap di atas tanah.

            Malaikat Jibril a.s. bertanya kepada si cacing, "Wahai cacing kecil apakah kamu senang telah dijadikan Allah s.w.t. sebagai seekor cacing?".
 Si cacing menjawab, " Masya Allah, alhamdulillah, aku bersyukur kepada Allah s.w.t. yang telah menjadikan aku sebagai seekor cacing, dari pada dijadikaan-Nya aku sebagai seorang manusia. Apabila mereka tidak memiliki iman yang sempurna dan tidak beramal soleh ketika mereka mati mereka akan disiksa selama-lamanya".
           
            Benarlah sahabat saya yang bertanya, “Apakah kita menjadi bahagia karena bersyukur, ataukah kita bersyukur karena kita bahagia?” Mari kita bertanya pada diri kita sendiri.

            Beberapa saat yang lalu dalam perjalanan mudik saya dan keluarga ke Provinsi Papua Barat, tepatnya di Kampung Desay  Prafi  Manokwari, saya telah belajar menikmati syukur itu. Sebelum keberangkatan kami sekeluarga secara tidak sengaja salah seorang teman di sekolah bertanya hendak kemana mudik tahun ini. Saya sampaikan bahwa saya akan ke kampung suami di Manokwari. ‘Wah Ustadzah, siap aplikasikan syukur, nih.” ujar teman saya tadi. Saya tersenyum dan mengiyakannya dalam hati. Maka saya pun mempersiapkan diri terutama anak-anak yang sudah terbiasa mendapatkan segala sesuatu dengan mudah dan cepat di kota. Maka perjalanan syukur itu akhirnya mengantarkan kami ke desa kecil di timur Indonesia.

            Sebenarnya, untuk menikmati syukur tidak perlulah jauh-jauh seperti yang saya dan keluarga saya lakukan. Tapi, melakukan perjalanan untuk melihat dan menyaksikan ayat-ayat kauniyah itu sering di lakukan oleh para pendahulu kita. Yang pasti, ketika setiap kejadian yang kita dapati menjadikan tumbuh mekarnya iman di dada maka itu adalah  bagian dari hikmah yang kita petik dan bagian dari hidayah kebaikan yang Allah berikan. Seberapapun jengkal yang kita tapakkan dan seberapapun samudra yang kita arung, kalau kita tidak bisa petik kuntum hikmah itu adalah semu bagi bahagia yang terindu.

            Maka, dengarlah celoteh kerbau, kelelawar dan cacing di atas saat ditanya malaikat Jibril. Betapa bahagia mereka menikmati hidup ini. Berbaik sangka, selalu yang terbaik yang Allah pilihkan untuk kita. Maka, menikmati syukur adalah ketika setiap ucapan adalah cerminan apa yang ada dalam hati kita  Alhamdulillah, bahagianya saya yang punya anak banyak, teman saya sudah berbelas tahun menikah belum dikaruniai anak. Alhamdulillah, bahagianya saya yang belum punya anak, sehingga saya bisa lebih lapang waktu, tenaga dan materi untuk membantu saudara-saudara saya. Teman saya bahkan ada yang belum menikah .Alhamdulillah, bahagianya saya meski belum menikah. Saya bisa belajar lebih banyak mempersiapkan diri untuk kehidupan berkeluarga nanti. Saya juga lebih punya banyak waktu untuk berbakti kepada orang tua. Kalau sudah menikah, mungkin saya harus berbagi waktu, tenaga dan pikiran untuk keluarga dan orang tua. Dan masih banyak lagi yang harus kita syukuri.
Miris rasanya mendengar ungkapan cacing kecil di dalam tanah itu, “ Lebih baik menjadi cacing daripada menjadi manusia Apabila mereka tidak memiliki iman yang sempurna dan tidak beramal soleh ketika mereka mati mereka akan disiksa selama-lamanya".
Naudzubillahi min dzalik, semoga apa yang disampaikan cacing pada malaikat Jibril as tersebut tidak menimpa kita. Semoga kita menjadi bagian dari golongan hamba-hamba Allah yang pandai bersyukur. Selalu ingatlah peringatan dari Allah, “Jika engkau bersyukur,maka akan Aku tambahkan nikmatKu kepadamu, dan jika engkau kufur, sesungguhnya adzabKu sangat pedih.”

            Maka, bertanyalah kepada diri kita sendiri. Untuk hari ini, apakah kita tengah bersyukur karena kita bahagia, ataukah kita bahagia karena kita telah dan tengah bersyukur.
Dan perjalanan syukur itu akhirnya menjadikan kami sekeluarga bahagia setibanya di Malang. Bertemu orang tua dan handai taulan yang sangat kami rindukan selama 10 tahun terakhir. Membawa berlapis hikmah yang kami simpan dalam relung jiwa untuk kami jadikan bekal perjalanan selanjutnya.

Selamat berbahagia menikmati syukur.
Taqobalallahu minna wa minkum.Taqobal Yaa Kariim.

Rabu, 29 Juni 2011

Yuk, belajar lagi...!

Yuk….Belajar (lagi) !
(Oleh: Lenny Oktaviana Dewi,S.Pd)
                Dalam sebuah kesempatan pertemuan dengan ibu-ibu pengajian bulanan, saya di tantang untuk kuliah lagi. Karena jaman sekarang Sarjana S1 sudah tidak ada bedanya dengan lulusan SMU.
”Ayo, Bu Lenny, mumpung masih muda. Siapa tahu bisa nambahin kredit point dan gajinya tambah gedhe!” celoteh si ibu dengan semangat. Kebetulan ibu tersebut  juga sedang kuliah S2. Saya tertawa kecil menanggapi penuturannya.  Dalam hati saya mengiyakan statement beliau untuk kuliah (baca= belajar) lagi. Karena sesungguhnya saya juga sangat ingin kembali merasakan jenak-jenak menikmati bangku kuliah seperti dulu. Tapi mungkin Allah belum mengijinkan untuk saat ini. Saya butuh waktu untuk memanage semuanya termasuk diri dan keluarga. Dan yang terpenting saya tidak ingin niatan belajar lagi itu hanya  semata mendapat kredit point atau tambahnya gaji. Biarlah yang itu mengikuti setelah tujuan saya belajar lagi itu karena sungguh Allah ridha dengan saya. Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang berilmu…. Itu janjiNya dalam Al Quran.
Saya ingin ilmu yang saya peroleh membawa keberkahan dalam rentang hidup saya hingga hari akhir nanti. Saya ingin ilmu yang saya dapat menjadikan saya semakin faham hakekat diri dan kehidupan. Sebagaimana para shahabiyah yang karena kefahaman akan ilmunya menjadikan mereka wanita-wanita teladan kebaikan sampai hari ini. Memberikan peran penting dalam mengantar diri dan keluarganya terbebas dari siksa api neraka. …” Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah diri dan keluargamu dari  api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar dan k eras yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At Tahriim:6)
Maka lihatlah Ummu Sulaim yang meminta mahar kepada Abu Thalhah yang berkehendak memintanya menjadi istri. “Aku akan menikahimu asal kau bersyahadat tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad Rasulullah”, pintanya tegas. Dan Abu Thalhah pun mengiyakannya. Kalau bukan karena kefahaman akan diennya, tiada mungkin terucap kalimat luar biasa seperti itu. Maka, Ummu Sulaim adalah pembelajar sejati. Ilmu yang mendatangkan kefahaman menggelorakan iman yang melesak ke dalam sanubari. Menjadikan ia perempuan dengan mahar  termahal sepanjang sejarah hidup ini. Belajar kepada Ummu Sulaim, karena Ummu Sulaim belajar mengenal Allah dalam bangku kuliahnya. Belajar untuk menjadikan dirinya lebih memahami diennya, agama yang lurus ini.
Gempita meriah pesta walimah telah usai, maka  kebahagiaan merajai  kedua mempelai. Malam indah  terasa penuh bunga.  Semerbak harumnya menjadikan pengantin itu merasa betah berlama dalam peluk dan cinta. Tapi, genderang perang tengah ditabuh. Panggilan jihad tak mengenal kata tunggu dulu, aku sedang bercumbu rayu. Relakah peluk sang kekasih terurai demi janjiNya? Bersua para pendahulu syuhada yang telah bertemu bidadari di syurgaNya. Dan, dengarlah untaian indah sang pujaan hati yang begitu mengenal cinta dan rindu kepada Allah,”Pergilah kakanda, adinda menunggu dipintu syurga.” Melepas peluk tanda ikhlas, mengantar suami yang baru menikahinya beberapa saat lalu. Bahkan jenak rindupun belum sempat tertitipkan pada malam. Melesatlah sang pujaan ke medan juang yang menantang. Handzolah sang pejuang, mengirim kabar kesyahidan pada sang istri tersayang. Tersanding senyum Rasulullah menyaksikan malaikat memandikan sang syuhada. Karena  janabat belumlah sempat, berlari  memburu harum kesturi yang memikat. Duhai, wanita seperti apa istri sang syuhada. Mulianya tiada tandingan hingga hari ini. Mungkin kita bisa belajar darinya. Istri Handzolah yang berkalung ikhlas melepas kekasih pujaan. Mengantarkan pada kesyahidan. Sungguh Allah pasti menyandingkan mereka berdua. Sejoli cinta sampai negeri abadi. Mari kita belajar darinya. Kalau bukan karena kefahamannya akan ilmu , tiada mungkin istri syuhada itu menjadi begitu bijak melepas suami.
Ada lagi kisah seorang ibu yang meredam kemanjaan sang putra agar kembali ke medan jihad. Abdullah bin Zubair sang putra merasa melemah. Didatanginya pangkuan ibu berharap pembelaan darinya. “Wahai Ibu, kini manusia telah menghina diriku. Pengikutku makin menipis. Kekuatan kami mungkin hanya bertahan sampai hari ini. Sedang musuh masih menawarkan dunia, bila kuturuti kehendaknya bagaimana pendapatmu?”
“Demi Allah wahai anakku jika tahu dirimu dalam kebenaran dan disitulah tujuanmu, teruskanlah! Namun jika tujuanmu adalah duniawi semata, maka kamu adalah hamba Allah yang sangat buruk. Jika katamu aku berkata dalam kebenaran, namun jika terlihat pengikutmu jadi melemah dan kamupun jadi ikut melemah maka ini adalah pekerjaan pengecut. Apakah dirimu merasa kekal di alam fana ini? Mati terbunuh adalah lebih baik.” petuah sang ibu panjang lebar. Dan melesatlah sang putra ke medan perang dengan semangat membara.
Ujarnya menjawab nasehat sang ibu,” Demi Allah, inilah pikiran sebenarnya dari ibuku sejati dan sesuai dengan pendapatku. Demi Dzat yang menggugah semangatku hari ini, kini dunia bukan lagi kecenderunganku, namun sekali lagi ananda ingin agar ibu menambah penenangan hatiku, pelita inderaku bila aku terbunuh hari ini, janganlah ibunda bersedih. Serahkanlah semuanya ke hadirat Allah SWT.”
Dilepaslah sang putra dengan rangkaian doa; “ Ya Allah, kasihanilah sepanjang malam guna munajat putraku kehadiratMu. Karena ia termasuk penghilang dahaga bagi penduduk Mekah dan Madinah, dan berbakti kepadaku dan juga ayahnya yang telah Engkau ridhoi sepanjang hidupnya.”
Maka apalagi yang menjadi peran seorang Mar’ah sholihah selain mengarahkan tarbiyah untuk putra-putranya. Memberikan pendidikan yang baik, menjadikan dirinya Ummu Madrasatun. Mengajak seluruh anggota keluarga bercita-cita berkumpul di SyurgaNya. Asma’ binti Abu Bakar, ibunda teladan sepanjang jaman. Mari belajar darinya. Menempa diri menjadi insan berpesona. Selayak syurga untuknya.
Belajar lagi. Mengapa tidak belajar dari Samra’ binti Nahik ? Seorang shahabiyah yang bertemu Rasulullah SAW. Tanpa berpikir untung rugi, bergerak melesat menuju pasar untuk menoreh amal, mengajak muslimah yang lain merasakan indahnya iman. Lihatlah ia yang memakai baju tebal sedang tangannya memegang cemeti. Dia sedang memberi  nasehat kepada orang-orang, menyuruh mereka berbuat baik dan melarang berbuat kemungkaran. (HR Ath Thabrani dalam Al Kabir XXIV: 311/785 dengan sanad jayyid)
Tentunya masih banyak lagi kisah-kisah menyejarah yang patut kita petik hikmah. Ada  banyak guru sejati dan sekolah berpekerti. Tinggal kita memilih, menjadi apakah kita setelah menimba lautan ilmu. Semakin merunduk seperti padi, ataukah berpongah menepuk dada. Membanggakan gelar yang berderet di belakang. Meminta hak tanpa menunaikan kewajiban. Semestinya, menjadi malulah kita saat catatan amal itu digelar di padang mahsyar. “Engkau telah berbohong, bukankah sewaktu didunia engkau sekolah tinggi-tinggi agar orang menyebutmu orang yang pandai, dan itu telah kau dapat di dunia. Maka lemparkanlah dia ke dalam neraka.” Perintah Allah Sang Pemilik ilmu. Na’udzubillahi tsumma na’udzubillah.                                                                                                                                                    Juni’11









Selasa, 31 Mei 2011

Agar Cinta menjadi Tidak Biasa

Agar Cinta Menjadi Tidak Biasa
(Oleh: Lenny Oktaviana Dewi, S.Pd)
Suatu hari….menjelang hari Idul Fitri seorang anak tampaknya sangat sedih. Ia menangis tersedu-sedu…..Ada apa ya dengan anak itu…?
                Saat itu tampak rasulullah, Nabi Muhammad SAW sedang berjalan-jalan di kota Mekah. Ketika Nabi melihat anak yang menangis itu Nabi segera mendekati dan bertanya, “Kenapa engkau menangis nak…? Apa yang kau tangiskan…?”
Anak itu menjawab, “Ayah dan Ibu saya sudah tidak ada, sedang hari Raya sudah dekat….Saya lihat teman-teman saya bergembira dengan ayah, ibu dan keluarga mereka. Saya sedih tidak ada Ayah dan Ibu yang mengasuh dan memelihara saya, tidak ada keluarga yang member i  saya makan…”
                Mendengar itu Rasulullah sangat terharu. Dibujuknya anak itu. Dipeluknya dengan penuh sayang. Diusap-usapnya kepala anak itu sambil berkata, “Sekarang berhentilah menangis, nak. Maukah engkau menjadikan Muhammad ini Ayahmu? Aisyah menjadi Ibumu dan Fatimah menjadi saudaramu?
                Anak itu terkejut dan segera berhenti menangis. Dia tidak menyangka ternyata orang yang membujuknya, yang membelai-belai rambutnya adalah Rasulullah, Nabi Muhammad SAW yang tentu saja dia mau…
                Menjadi anak dari orang yang mulia, betapa senangnya  merasakan mempunyai ayah, ibu dan keluarga kembali.
                Nabi segera membawa anak itu pulang. Sesampainya di rumah, anak itu segera dibersihkan badannya oleh Ibunda Aisyah dan di pakaikan dengan pakaian yang bersih. Wajah anak itupun berseri karena gembira. Semenjak itu dia tinggal bersama keluarga Nabi. Nabi lah yang menjaga dan memelihara anak itu.
                Menjadi Ibu yang mencintai anak-anak buah hatinya adalah peran yang sangat istimewa dan tentu saja sangat mulia di sisi Allah SWT. Apalagi jika menjadikan dirinya sebagai Ummu Madrasatun, sekolah bagi anak-anaknya. Peran seorang ibu yang acapkali di sebut sebagai  Tiang Negara sangatlah benar. Jika pendidikan anak-anak begitu dipercayakan penuh padanya agar  Negara ini menjadi Baldatun Toyyibatun wa Rabbun Ghafurun , maka tugas mana lagi yang akan diemban seorang wanita muslimah selain menjadikan dirinya Ibu yang baik dan multi peran dalam pengasuhan anak-anaknya.
                Menjadi sangat wajar dan biasa ketika ia mencintai anak-anak yang terlahir dari rahimnya. Ia sudah mengandung dan merawat dengan segenap jiwanya. Sejak dari  kandungan dalam keadaan susah dan semakin bertambah dari hari kehari hingga berganti bulan, sampai  genaplah hitungan ke sembilan bulannya lebih sepuluh hari. Menahan sakit dan penuh perjuangan saat melahirkannya. Masih di tambah merawat dan menjaganya sampai si Buah Hati beranjak dewasa. Saat ia sudah bisa bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri. Seorang Ibu memang luar biasa. Semoga Allah terus menjaga keikhlasannya.
                Menjadi tidak biasa, ketika seorang Ibu bisa berbagi cinta dengan anak orang lain. Anak –anak yang mungkin tidak mendapat kesempatan mendapatkan Ibu yang baik, keluarga yang menyayangi dan lingkungan yang nyaman untuknya. Berbagi kebahagiaan, mencintai seperti anaknya sendiri. Semoga Allah merahmati Ibu-ibu luar biasa ini.
                Rasulullah berwasiat pada kita, “Barang siapa yang menyayang, maka dia akan di sayang.” Bukan sebuah kebetulan ketika kita menghampiri kemudian mengulurkan tangan kita penuh kasih, untuk mampu membelai  kemudian menyantuni anak-anak kurang beruntung tadi. Ada sebuah proses untuk  memulai dan menjadi sebuah kebiasaan baik untuk segera dilakukan.
                Rasulullah SAW bersabda: “Saya dan orang yang menyantuni anak yatim seperti ini “– beliau memberikan isyarat dengan telunjuk dan jari tengah dan merenggangkan diantara keduanya.
“Barangsiapa menggabungkan seorang anak yatim diantara kaum muslimin dalam makan dan minumnya sehingga dia berkecukupan, maka baginya surga.”
“Seorang laki-laki datang kepada Nabi SAW mengadukan tentang hatinya yang membatu, maka Nabi SAW bertanya kepadanya; “Apakah kamu menjadi lembut dan kamu mendapatkan hajatmu (keperluanmu)? Rahmatilah anak yatim, usaplah kepalanya dan berikanlah makan kepadanya dari makananmu, niscaya hatimu menjadi lembut dan niscaya kamu akan mendapatkan hajatmu.”
                Wahai muslimah, ditanganmu ada kelembutan yang bermuara di hatimu. Tidakkah kalian ingin berdampingan dengan Rasulullah di surgaNya? Inginkah pintu surga terbuka lebar untukmu? Maka, lembutkan hatimu dengan menabur cinta untuk anak-anak itu. Anak-anak selain anak-anak kita sendiri. Agar hati kita terasah kelembutannya.  Agar cinta kita menjadi tidak biasa.                    
  (Malang, Apr’11)